Minggu, 08 Juli 2012

Pinjaman



   Satu hal yang banyak aku belajar dari suamiku adalah sifat pemurahnya. Aku memahami bahwa sifat ini harus dimiliki oleh setiap orang Islam. Tetapi mengeluarkan sesuatu yang kita susah payah untuk meraihnya, buatku masih merupakan hal yang agak berat dilakukan. Kondisi ekonomi keluarga kami Alhamdulillah mencukupi kebutuhan sehari-hari. Cukup dalam arti yang sebenarnya Pemasukan kurang lebih sama dengan pengeluaran. Kalau dapat menabung itu pun karena aku memutar otak agar dapat memanajemen uang yang masuk dengan efektif. Tapi karena sifat suamiku yang seperti itu, sampai hampir empat tahun kami menikah, tabungan kami tak pernah bertambah. Selalu saja terpakai untuk orang lain. Aku bersyukur diberi Allah suami yang seperti Bang Razak.
Karena selalu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingannya ataupun keluarganya sekalipun.
Tapi kadang-kadang...
"Kata siapa tabungan kita nggak banyak, Tia..Malahan dikasih bunga sama Allah sampai 700 kali lipat.."
Begitu selalu katanya, ketika kusinggung tentang tabungan kami yang tak pernah bertambah.
"Kalau ada seseorang yang meminjam kepada kita, kita harus bersiap-siap mengikhlasannya sebagai sedekah...Karena kemungkinan tidak dapat mereka bayar juga ada..." Kata Bang Razak di lain waktu ketika kami memerlukan uang cukup banyak untuk membayar onglos reparasi mobil butut bang Razak yang mengalami benturan karena tabrakan. Dan karena uang persediaan yang ada tidak mencukupi terpaksa malah kami yang harus meminjam kekurangannya pada seorang kawan.
Dan malah kami yang jadi berhutang.
Siang itu aku bersama Hilya dan Fuadi (anak-anakku) pergi mengunjungi Mbak Ratna, untuk menyampaikan amanat Bang Razak mengembalikan pinjaman uang untuk reparasi mobil tempo hari.
Alhamdulillah, mbak Ratna ada di rumah, karena aku tak sempat menghubungi nya sebelumnya.
"Tia..masuk.."katanya ketika melihat aku yang mengetuk pintu. Setelah mengobrol ke sana ke mari, aku menyerahkan amplop coklat pada Mbak Ratna. "Ini Mbak, uang pinjaman tempo hari..Alhamdulillah. Jazakillah
khoir.."
Mbak Ratna tersenyum,"Sudah dibayar kok, Tia. Mas Bambang yang memberitahukan padaku semalam.
Katanya kalau keluarga Razak datang mengembalikan pinjaman, pinjaman itu sudah lunas sejak seminggu lalu.."
Aku Terlongong sebentar,"loo..siapa yang membayarnya, Mbak..?"
"Aku juga kurang tahu..Tapi itu amanat yang disampaikan Mas Bambang..." Masih dengan keherananku aku pulang dengan membawa kembali amplop coklat itu.
Sesampai di rumah kulihat Salman, adik bungsuku, telah menunggu di Beranda.
"loh, kok nggak masuk saja..Kan ada Imah di dalam."tegurku ketika kulihat tampaknya Salman sudah aagak lama menunggu.
"Justru karena ada Imah di dalam, nggak masuk.."jawab Salman sambil mwengambil Fuadi dari gendonganku dan menggandeng Hilya. Dan mendahuluiku masuk rumah sambil mengucap salam berbarengan dengan Hilya.
Aku tersenyum mengikuti di belakang mereka. Aku bangga pada Salman, karena dia tahu batas-batas berkunjung ke rumah orang, walaupun rumah kakaknya sendiri. Memang rumah kami kecil, sehingga agak rikuh untuk berlama-lama dengan non mahram.
Itulah sebabnya mengapa Salman memilih menunggu di teras.
"Wa'alaikum salam..Wah, Ibu sudah pulang. Untung Imah sudah selesai masaknya. Tadi Mas Salman yang Imah minta di dalam, tetapi nggak mau, katanya kalau mas Salman yang di dalam masakan nggak akan selesai..."
Aku tertawa mendengar laporan Imah.
"Tuh, gara-gara kamu Imahnya jadi diburu-buru masaknya..." Salman hanya nyengir.
"Ada apa kok, tumben kau datang siang-siang begini..? Tak ada kuliah..?" Aku bertanya sambil sibuk menyuapi Hilya dan Fuadi bergantian.
"Hmm.."Salman masih sibuk dengan makanan yang dikunyahnya.
"Aku perlu uang Ceu Tia..."jawabnya setelah menelan makanan yang ada di mulutnya.
"Lo, bukannya buat bulan ini sudah ada..?"tanya ku.
Biaya kuliah Salman memang sebagian besar kami yang menanggung. Abah sudah pensiun ketika Salman harus masuk perguruan tinggi. Gaji pensiunan kepala sekolah dasar saja tentu tidak mencukupi untuk membiayai kuliah. Aku anak kedua dari tiga orang bersaudara. Kakak perempuanku, meskipun sudah menikah, keadaan ekonominya tak cukup memungkinkan untuk ikut membantu membiayai kuliah Salman. Asa(Atas) usul Bang Razak, akhirnya biaya kuliah Salman kamilah yang menanggung. Salman sendiri bukannya tidak berusaha untuk berdikari. Dia memberi les privat sambil kuliah.
"Yang ini bukan buat urusan kuliah, Ceu...Tapi buat urusan masa depan."
"Aku kan juga harus memikirkan buat berdikari, kasihan kalau harus minta Ceu Tia dan Bang Razak terus.
Apalagi Hilya dan Fuadi sudah beranjak besar. Tentunya memerlukan investasi buat pendidikan mereka."
"Hmm, terus.."
"Iya..aku ingin wiraswsta kecil-kecilan, bersama beberapa kawan. Dari itu aku butuh modal. Makanya aku ingin pinjam modal itu dari Ceu Tia dan Bang Razak ,kalau Ceu Tia nggak berkeberatan...
"Insya Allah nanti aku bicarakan dengan bapaknya Hilya dan Fuadi. Ngomong-ngomong berapa yang kau perlukan ...? Mungkin kalau kau perlunya banyak, tak bisa kami penuhi semuanya..."
Salman menyebutkan sejumlah uang. Hmm, aku jadi teringat amplop coklat yang tak jadi kubayarkan itu. Dua kali lipat yang ada di situ. Tapi aku tak bisa memberikannya pada Salman sekarang. Aku harus membicarakannya dulu pada suamiku.
Akhirnya, jadilah Bang Razak menyetujui rencana Salman. Aku jadi tertawa sendiri. Ternyata ada hikmahnya juga pinjam meminjam ini. Uang yang datang, tanpa diduga, ternyata perginya juga tanpa diduga. Uang yang seharusnya untuk membayar pinjaman yang ternyata telah lunas itu, sekarang dipinjam Salman. Ah, mungkin dengan cara begini Allah membagi rizki hamba-hambaNya. Pikirku belajar dari kejadian itu.
*******
Aku sedang asyik memeriksa pe-er murid-muridku, ketika kudengar seruan Imah dari ruang tamu."Bu, Ibu! Ada tamu yang mencari bapak."
Aku beranjak mengambil jilbab kausku dan bergegas memakai kaus kaki butut yang senantiasa selalu kuletakkan berdekatan dengan jilbab kaus.
"Sambil membuka pintu , kujawab salam itu.
"Maaf, Bu. Benar ini rumah Pak Razak?"
"Iya benar. Maaf, Pak, suami belum datang sekarang ...Boleh saya tahu bapak siapa...? Biar bisa saya sampaikan pada suami."
"Saya Jumadi, Bu. Pak Razak Insya Allah mengenal saya. Kalau begitu tolong serahkan saja surat dan bungkusan ini pada pak Razak. Lain kali, jika ada ke-sempatan Insya Allah, saya bertandang lagi."
Aku menutup pintu dengan sedikit pertanyaan. Kuamati bungkusan kecil yang cukup tebal itu. Kutahan rasa keingin tahuan ku yang kuat. Ini amanah buat bang Razak. Tidak sepatutnya aku membukanya sebelum sampai ke tangan Bang Razak sendiri.
Lewat Isya Bang Razak baru datang. Seperti biasa, kedatangannya di sambut ramai oleh Hilya dan
Fuadi-yang baru saja bisa berjalan tertatih-tatih. Hilya mencium tangan ayahnya seraya mengambil tas kantor ayahnya. Bang Razak bergerak ke arahku sambil menggendong fuadi di lehernya.
"Afwan, Tia. Pulangnya kemalaman. Seperti biasa ngadat lagi tuh"gerobak".
Alhamdulillah banyak yang mau mbantuin dorong,"katanya tertawa. Aku ikut tertawa. Bang Razak menyebut mobil butut kami dengan"gerobak". Walaupun gerobak mobil itu telah banyak membantu kami, khususnya Bang Razak yang banyak mempunyai kesibukan di luar kantor. Dapat aku bayangkan, bagaimana jika Bang Razak hanya mengandalkan kendaraan umum saja. Bisa-bisa setiap hari baru jauh malam Bang Razak bisa pulang ke rumah. Sudah lama sebenarnya ada keinginan untuk menggantikannya dengan yang lain, biarpun mobil bekas. Tapi ya, itu... Anggaran untuk mencicilnya tidak bisa disisihkan. Sehingga jadilah keinginan hanya tinggal keinginan. Di meja makan kuceritakan tentang kedatangan Pak Jumadi dan tak lupa kuserahkan pula bungkusannya.
"Pak Jumadi itu siapa, Bang?"
"Orang tua dari teman sekelas Abang dulu di SMA"
"Perempuan?"tanyaku ingin tahu.
"lho? Memangnya kenapa kalau perempuan? Namanya juga teman sekelas, bisa saja toh perempuan." Jawab Bang Razak santai sambil membuka amplop surat. Aku memandangi Bang Razak dengan gemas karena jawabannya. Kulihat perlahan air muka Bang Razak berubah. Nampak rasa haru membias di matanya. Lalu Bang Razak memandangiku sambil menyerahkan kertas yang tadi dibacanya.
...
Nak Razak, Alhamdulillah keadaan kami sekeluarga jauh lebih baik dari 7 tahun lalu. Usaha dagang kami yang dulu sempat pailit karena tertipu orang, dengan ijin Allah perlahan-lahan membaik dan tampaknya mapan sekarang. Kami tak pernah melupakan jasa baik Nak Razak. Alhamdulillah. Kalau saja Nak Razak tidak meminjamkan uang itu pada kami, mungkin kami tidak dapat menikmati hasil dagang kami seperti sekarang. Karena tempat-tempat untuk meminjam modal waktu itu pun tidak mempercayai kami lagi, karena tidak ada satu barang berharga pun yang dapat kami jadikan jaminan.
Di saat seperti itu hanya Nak Razaklah yang mau meminjamkan kami uang dalam jumlah yang cukup besar.
Meskipun, mungkin sebenarnya Nak Razak memerlukannya juga. Kami mengerti, sebesar-besar beasiswa yang diterima di luar negeri pun, toh diperlukan untuk keperluan Nak Razak sendiri. Tapi nak Razak begitu pecaya pada kami, yang statusnya hanyalah orang tua dari teman sekelas.
Bahkan di surat terakhir Nak Razak mengatakan, tak usah dipikirkan sebagai hutang, karena Nak Razak sendiri sudah mengikhlaskannya. Nak Razak, Rahmad sendiri sekarang Alhamdulillah telah menikah, bahkan telah dikaruniai seorang putra. Karena bantuan Nak Razak pula anak kami itu dapat menyelesaikan kuliahnya dengan selamat.
Sebenarnya, telah lama kami merencanakan untuk mengembalikan pinjaman uang kami. Tapi baru sekarang jumlah yang sama dengan waktu meminjam dapat kami kumpulkan. Sehingga terpikirlah oleh kami, betapa sebenarnya uang ini bagi Nak Razak sendiri sangat berarti. Kami jadi merasa bersalah, karena sejak Nak Razak kembali pulang ke Indonesia pun, tak pernah datang menagih uang yang sebenarnya masih menjadi hak Nak Razak.
Alhamdulillah, kami mendapat alamat Nak Razak di Bandung lewat orang tua Nak Razak di jakarta. Dan dengan ijin Allah, surat dan uang ini sampai di Ja(tangan) nak Razak dan keluarga. Terimakasih atas kepercayaan yang Nak Razak berikan kepada kami. Semoga Allah memberkati Nak Razak dan keluarga, serta memberi ganjaran yang setimpal dengan apa yang telah Nak Razak kerjakan.
.........
Aku menatap Bang Razak yang tengah memandangiku.
"Ini..,"kataku terputus sambil mendorong bungkusan itu ke dekat Bang Razak. Bang Razak tak pernah menceritakan hal ini sedikit pun kepadaku. Walau beliau banyak menceritakan pengalaman-pengalamannya ketika belajar di Jepang, namun tak pernah sekalipun menyinggung masalah yang ini. Bang Razak rupanya tak mau merusak keikhlasannya dengan mengungkit-ungkitnya. Rasa hormatku makin bertambah pada suamiku.
"Ini Abang percayakan pada Tia,"katanya sambil mengambil tanganku dan meletakkan bungkusan kecil itu di atas tanganku.
"Sebanyak ini..?" tanyaku agak ragu.
Bang Razak mengangguk.
"Tapi ingat, ini hanyalah pinjaman dari Allah.."lanjutnya sambil tersenyum. Aku mengangguk haru. Ini adalah kedatangan rizki yang tak kuduga-duga ke dua kalinya sejak kejadian pinjaman kami yang tanpa sepengetahuan kami telah terbayarkan itu. Tapi kali ini aku merasakannya juga sebagai teguran Allah atas rasa beratku dan ketidak ikhlasan ku dalam memberi pada orang lain, juga atas ketidak sabaranku, yang kadang-kadang terdesak keadaan, menunggu piutang pada seseorang untuk segera dilunasi. Aku menyimpan bungkusan itu di lemari pakaian tanpa kubuka. Biarlah sampai ada yang datang lagi memerlukan sebagian darinya, baru kubuka. Begitu niatku. Tak lama beberapa menit setelah itu...
"Tia!" kudengar seruan Bang Razak yang berjalan ke arah kamar di mana ku berada.
"Abang lupa, Abang tadi pinjam uang pada Rudi buat ongkos bengkel..

0 komentar:

Posting Komentar

About me

Maaf Ya, Di Blog Ini Tidak Di Ijinkan Untuk Klik Kanan

Powered By Blogger
Diberdayakan oleh Blogger.
 
Minima 4 coloum Blogger Template by Serdadu Banten.
Simplicity Edited by Serdadu Banten's Template