Tampilkan postingan dengan label Sejarah Pegunungan Yang Ada Di Banten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Pegunungan Yang Ada Di Banten. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juli 2012

Gunung Krakatau

0 komentar



Tsunamigenik di Selat Sunda:
Kajian terhadap katalog Tsunami Soloviev
Yudhicara1 dan K. Budiono2
1Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi
Jl. Diponegoro No. 57 Bandung
2Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung
Sari
Tsunamigenik adalah suatu kejadian di alam yang berpotensi menimbulkan tsunami. Kejadian tersebut berupa terganggunya air laut oleh kegiatan-kegiatan gunung api, gempa bumi, longsoran pantai dan bawah laut, dan sebab-sebab lainnya.
Berdasarkan sejarah, di Selat Sunda telah berkali-kali terjadi bencana tsunami yang tercatat dalam katalog tsunami. Tsunami yang terjadi ini disebabkan oleh beberapa fenomena geologi, di antaranya erupsi gunung api bawah laut Krakatau yang terjadi tahun 416, 1883, dan 1928; gempa bumi pada tahun 1722, 1852, dan 1958; dan penyebab lainnya yang diduga kegagalan lahan berupa longsoran baik di kawasan pantai maupun di dasar laut pada tahun 1851, 1883, dan 1889.
Kondisi tektonik Selat Sunda sangat rumit, karena berada pada wilayah batas Lempeng India-Australia dan Lempeng Eurasia, tempat terbentuknya sistem busur kepulauan yang unik dengan asosiasi palung samudera, zona akresi, busur gunung api dan cekungan busur belakang. Palung Sunda yang menjadi ba­tas pertemuan lempeng merupakan wilayah yang paling berpeluang menghasilkan gempa-gempa besar. Adanya kesenjangan kegiatan gempa besar di sekitar Selat Sunda dapat menyebabkan terakumulasinya tegasan yang menyimpan energi, dan kemudian dilepaskan setiap saat berupa gempa besar yang dapat menimbulkan tsunami.
Sepanjang sejarah letusan, busur gunung api bawah laut Krakatau telah mengalami empat tahap pem­bangunan dan tiga tahap penghancuran. Setiap tahap penghancuran mengakibatkan terjadinya tsunami dengan kemungkinan potensi peristiwa serupa akan terjadi antara tahun 2500 hingga 2700.
Kondisi geologi dasar laut Selat Sunda yang labil, terutama disebabkan oleh perkembangan struktur geologi aktif yang membentuk terban, juga berpotensi menimbulkan bencana longsor apabila dipicu oleh gempa bumi. Sementara kondisi topografi pantai yang relatif terjal dengan tingkat pelapukan yang tinggi di sekitar Teluk Semangko dan Teluk Lampung, merupakan faktor lain yang dapat menimbulkan bencana longsor terutama apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi antara bulan Desember hingga Februari. Lebih jauh lagi, bahwa apabila material longsoran jatuh ke laut, meskipun sangat kecil dan bersifat lokal dapat juga berpotensi mengakibatkan tsunami.
Kata Kunci: tsunamigenik, gempa bumi, gunung api bawah laut, longsoran, tsunami
Abstract
Tsunamigenic is a natural phenomena which is potential to generate a tsunami, such as water dis­turbance due to the presence of activities of volcanism, earthquakes, coastal and sub marine landslidse, or other causal factors .
Historically, the Sunda Strait has experienced several tsunami events recorded in the tsunami catalog. Those tsunamies were caused by some geological phenomena such as eruptions of Krakatau submarine volcano in 416, 1883, and 1928; earthquakes in 1722, 1852, and 1958; and other causes which were suggested as a mass failure of coastal and submarine landslide in 1851, 1883, and 1889.
Tectonic condition of the Sunda Strait is very complicated, because this region is located at the boundary of Indian-Australian and Eurasian Plates, where a unique island arc system occurs with its association such as trench, accretionary zone, volcanic arc and back-arc basin. Sunda trench as a plate boundary is the most potential region to produce big earthquakes. Existence of a seismic gap in the region
241
242
Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 3 No. 4 Desember 2008: 241-251
can cause a stress accumulation and store energy, then it will be released any time as a big earthquake to generate a tsunami.
Along eruption history, Krakatau volcanic arc has four stages of reconstruction and three stages of destruction, and every destruction stage produces tsunami which is suggested to be potentially repeated in the future in a period between 2500 to 2700.
Seafloor of the Sunda Strait has an unstable geological condition due to geological structure development, which creates grabens and also enable to produce submarine landslides triggered by earthquake. Coastal condition around the Semangko and Lampung Bays consisting of steep topography with high intensity of weathering, is another factor to contribute landslide, particularly in the case of triggering be heavy rainfall between December to Februari. Furthermore, if landslide materials tumble into the water, even very small and locally, could create a potency of tsunami.
Keywords: tsunamigenic, earthquake, submarine volcano, landslide, tsunami
Pendahuluan
Tsunami bisa disebabkan oleh berbagai hal di antaranya gempa bumi dan erupsi gunung api di bawah laut, atau oleh sebab-sebab lain berupa longsoran di dasar laut dan atau di pantai.
Pada tahun 1883, di Kawasan Selat Sunda terjadi letusan Gunung Api Krakatau. Peristiwa bersejarah ini telah menarik seluruh perhatian dunia, karena material yang dimuntahkannya telah memicu ter­jadinya tsunami yang melanda sebagian Sumatera bagian selatan dan Jawa Barat bagian barat, sehingga menewaskan lebih kurang 36.000 jiwa manusia.
Berdasarkan katalog tsunami yang ditulis oleh Soloviev dan Go (1974), telah tercatat adanya beberapa kali peristiwa bencana tsunami di Selat Sunda (Tabel 1). Di dalam katalog dijelaskan bahwa tsunami tersebut dipicu salah satunya oleh erupsi gunung api yang pernah terjadi pada tahun 416 [terekam dalam sebuah kitab Jawa yang berjudul Pustaka Raja (“Book of Kings”)], yang diduga se­bagai gunung api Krakatau kuno. Setelah peristiwa erupsi gunung api bawah laut Krakatau di tahun 1883, erupsi-erupsi kecil berlangsung pada tahun 1884, menghasilkan tsunami kecil yang teramati di sekitar Selat Sunda. Peristiwa yang sama kembali terjadi pada tahun 1928, dan tsunami kecil teramati sekitar Gunung Api Anak Krakatau.
Dalam katalog tersebut juga dijelaskan bahwa tsunami pernah teramati setelah adanya peristiwa gempa bumi yang berpusat di dasar laut, di antaranya pada tahun 1722, 1757, 1852, dan 1958. Katalog tersebut juga merekam adanya kenaikan muka air laut yang diduga sebagai tsunami kecil bersifat lokal, teramati di beberapa kawasan pantai dengan penyebab yang belum diketahui, yaitu pada tahun 1851, 1883 (dua bulan setelah peristiwa erupsi Gunung Api Krakatau) dan 1889. Diduga bahwa peristiwa geologi lainnya yang menjadi penyebab terjadinya tsunami di Selat Sunda, selain erupsi gunung api dan gempa bumi bawah laut, adalah pe-ristiwa longsoran di kawasan pantai dan di dasar laut. Untuk membuktikan hal tersebut, telah dilakukan penelitian geologi dan geofisika kelautan di Selat Sunda, termasuk pemetaan longsoran di kawasan Teluk Betung dan sekitarnya maupun studi yang dilakukan mengenai Gunung Api Krakatau, untuk dijadikan bahan kajian tsunamigenik di Selat Sunda dengan mengacu pada sejarah tsunami yang tertulis dalam katalog tsunami (Soloviev dan Go, 1974). Dalam tulisan ini dikaji kondisi geologi dan tektonik kawasan Selat Sunda dan faktor pendukung lainnya yang dapat memberikan kontribusi kejadian tsunami dan potensinya. Hasil kajian diharapkan dapat dijadi­kan dasar penelitian lebih lanjut mengenai tsunami yang mungkin dapat terjadi di wilayah Selat Sunda, sehingga dapat diupayakan langkah mitigasinya sedini mungkin.
Geologi dan Tektonik Regional
Indonesia bagian barat berada pada pertemuan dua lempeng utama dunia yang aktif, yaitu Lem­peng Samudera Hindia-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Benua Eurasia. Konsekuensi pertemuan kedua jenis lempeng yang berbeda ini menyebabkan terbentuknya suatu busur kepulauan yang memiliki karakteristik adanya palung samu-dera, busur non gunung api yang tersusun oleh
Tsunamigenik di Selat Sunda: Kajian terhadap katalog Tsunami Soloviev (Yudhicara dan K. Budiono)
243
prisma akresi, busur gunung api, dan cekungan busur belakang (Hamilton, 1979). Beberapa pu-blikasi menyebutkan bahwa Selat Sunda berada pada kombinasi kondisi tektonik tersebut, dengan zona penunjaman yang memanjang dari ujung utara Pulau Sumatera membelok di Selat Sunda, memisahkan antara dua sistem penunjaman yang berbeda, yaitu sistem penunjaman miring (oblique) di perairan ba­rat Sumatera dengan sistem penunjaman tegak (fron­tal) di perairan selatan Jawa (Harjono drr., 1991). Di antara palung dengan busur gunung api terdapat prisma akresi, dan gunung api bawah laut (Krakatau) berada pada jalur busur gunung api di daerah ini. Secara tektonik daerah ini selain dipengaruhi oleh sistem zona penunjaman di barat daya Selat Sunda, juga berkembang Sesar mendatar Semangko dan Sesar mendatar Mentawai dengan arah pergerakan menganan (dextral) yang menerus hingga ke per-airan Selat Sunda (Gambar 1). Masing-masing ele­men tektonik tersebut memberikan kontribusi pada deformasi di daerah Selat Sunda dan membentuk topografi darat dan dasar laut yang bergelombang hingga curam di daerah ini. Kondisi tektonik de­
Tabel 1. Data Kejadian Tsunami berdasarkan Katalog Soloviev dan Go, 1974
Tahun
Uraian Kejadian Tsunami
416
Kitab Jawa yang berjudul “Book of Kings” (Pustaka Radja), mencatat adanya beberapa kali erupsi dari Gunung Kapi*, yang menyebabkan naiknya gelombang laut dan menggenangi daratan, dan memisahkan P. Sumatera dengan P. Jawa. *) Gunung Kapi ini diyakini sebagai Gunung api Krakatau saat ini).
Oktober 1722
8:00 terjadi gempa bumi kuat di laut, yang dirasakan di Jakarta dan menyebabkan air laut naik seperti air mendidih.
24 Agustus 1757
2:00, Gempa bumi yang kuat dirasakan di Jakarta kurang lebih selama 5 menit. Pada 2:05, selama goncangan yang terkuat, angin dirasakan berasal dari timur laut. Air sungai Ciliwung meluap naik hingga 0,5 meter dan membanjiri Kota Jakarta.
4 Mei 1851
Di Teluk Betung, di dalam Teluk Lampung di pantai selatan pulau Sumatera, teramati gelombang pasang naik 1,5 m di atas air pasang biasanya.
9 Januari 1852
Segera setelah 18:00, dirasakan gempabumi yang menyebar dari bagian barat Jawa hingga bagian selatan Sumatera, dirasakan juga di Jakarta, dan gempa-gempa susulannya dirasakan pula di Bogor dan Serang. Pada 20:00 terjadi fluktuasi air laut yang tidak seperti biasanya.
27 Agustus 1883
10:02, terjadi erupsi yang sangat dahsyat dari gunung api Krakatau, yang diikuti oleh gelombang tsunami. Ketinggian tsunami maksimum teramati di Selat Sunda hingga 30 meter di atas permukaan laut, 4 meter di pantai selatan Sumatera, 2-2,5 m di pantai utara dan selatan Jawa, 1,5-1 m di Samudera Pasifik hingga ke Amerika Selatan. Di Indonesia sebanyak 36.000 orang meninggal dunia.
10 Oktober 1883
Di Cikawung di pantai Teluk Selamat Datang, teramati gelombang laut yang membanjiri pantai sejauh 75 m.
Februari 1884
Lima bulan setelah kejadian erupsi Gunung api Krakatau, tsunami kecil teramati di sekitar Selat Sunda, diakibatkan oleh suatu erupsi gunung api.
Agustus 1889
Teramati kenaikan permukaan air laut yang tidak wajar di Anyer, Jawa Barat
26 Maret 1928
Kejadian erupsi gunung api Krakatau diiringi oleh kenaikan gelombang laut yang teramati di beberapa tempat di sekitar wilayah gunungapi.
22 April 1958
5:40, dirasakan gempa bumi di Bengkulu, Palembang, Teluk Banten dan Banten yang diiringi dengan kenaikan permukaan air laut yang meningkat secara berangsur.

Kamis, 12 Juli 2012

Sejarah Pengelolaan Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon

0 komentar


Status Pengelolaan Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon
Tahun 1846, Kekayaan flora dan fauna Ujung Kulon pertama kali diperkenalkan oleh Junghun dan Hoogerwerf ahli botani berkebangsaan eropa. Pada waktu itu mereka melakukan perjalanan ke Semenanjung Ujung Kulon untuk mengumpulkan beberapa species tumbuhan tropis yang eksotik.
Satu dekade kemudian, keragaman speciesnya dinyatakan dalam laporan perjalanan ilmiah yang dimasukkan ke dalam jurnal ilmiah.

Tahun 1883, Pada bulan Agustus gunung Krakatau meletus, menghasilkan gelombang tsunami yang menghancurkan kawasan perairan dan daratan di Ujung Kulon serta membunuh tidak hanya manusia akan tetapi satwa dan tumbuhan. Pada saat itu seluruh kawasan Ujung Kulon diberitakan hancur. Sejak letusan gunung Krakatau yang dahsyat tersebut, kondisi Ujung Kulon tidak banyak diketahui, sampai kemudian dilaporkan bahwa kawasan Ujung Kulon sudah tumbuh kembali dengan cepat.
Tahun 1921, Ujung Kulon dan Pulau Panaitan ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai Cagar Alam Ujung Kulon-Panaitan melalui SK. Pemerintah Hindia Belanda No. 60 tanggal 16 Nopember 1921.
Tahun 1937, Dengan keputusan Pemerintah Hindia Belanda No 17 tanggal 14 Juni 1937 diubah menjadi Suaka Margasatwa Ujung Kulon-Panaitan
Tahun 1958, berdasarkan SK. Menteri Pertanian No. 48/Um/1958 tanggal 17 April 1958 berubah kembali menjadi kawasan Suaka Alam dengan memasukan kawasan perairan laut selebar 500 meter dari batas air laut surut terendah Semenanjung Ujung Kulon, dan memasukkan pulau-pulau kecil di sekitarnya seperti Pulau Peucang, Pulau Panaitan, dan pulau-pulau Handeuleum (pulau Boboko, pulau Pamanggangan)
Tahun 1967, Dengan SK. Menteri Pertanian No. 16/Kpts/Um/3/1967 tanggal 16 Maret 1967, Gn Honje selatan seluas 10.000 ha masuk kedalam kawasan Cagar Alam Ujung Kulon.
Tahun 1979, Gn Honje utara masuk kawasan Cagar Alam Ujung Kulon melalui SK. Menteri Pertanian No. 39/Kpts/Um/1979 tanggal 11 Januari 1979, seluas 9.498 ha.
Tahun 1980, Tanggal 15 Maret, melalui pernyataan Menteri Pertanian, Ujung Kulon mulai dikelola dengan sistem manajemen Taman Nasional.

Tahun 1984, Dibentuklah Taman Nasional Ujung Kulon, melalui SK. Menteri Kehutanan No. 96/Kpts/II/1984, yang wilayhnya meliputi: Semenanjung Ujung Kulon seluas 39.120 ha, Gunung Honje seluas 19.498 ha, Pulau Peucang dan Panaitan seluas 17.500 ha, Kepulauan Krakatau seluas 2.405,1 ha dan Hutan Wisata Carita seluas 95 ha.
Tahun 1990, Berdasarkan SK. Dirjen PHPA No. 44/Kpts/DJ/1990 tanggal 8 Mei 1990, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon mengalami pengurangan dengan diserahkannya Kepulauan Krakatau seluas 2.405,1 ha kepada BKSDA II Tanjung Karang, Hutan Wisata Gn. Aseupan Carita seluas 95 ha kepada Perum Perhutani Unit III Jawa Barat. Selanjutnya luas kawasan TN. Ujung Kulon berubah menjadi 120.551 ha meliputi kawasan daratan 76.214 ha dan kawasan perairan laut seluas 44.337 ha.
Tahun 1992, Ujung Kulon ditetapkan sebagai Taman Nasional dengan SK. Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1992 tanggal 26 Pebruari 1992. Meliputi wilayah Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Panaitan, Pulau Peucang, P. Handeuleum dan Gunung Honje. Dengan luas keseluruhan 120.551 ha, yang terdiri dari daratan 76.214 ha dan laut 44.337 ha.
Tahun 1992, Taman Nasional Ujung Kulon ditetapkan sebagai The Natural World Heritage Site oleh Komisi Warisan Alam Dunia UNESCO dengan Surat Keputusan No. SC/Eco/5867.2.409 tahun 1992 tanggal 1 Pebruari 1992.

Sejarah Gunung Pulosari

0 komentar

Gunung Pulosari - Pusat Peradaban Masa Lalu Banten


GUNUNG Pulosari telah lama dikenal. Dalam sejarah Banten dikatakan Sunan Gunung
Jati dan Hasanuddin melakukan perjalanan dengan tujuan ke Gunung Pulosari yang
menurut Sunan Gunung Jati merupakan wilayah Brahmana Kandali. Di atas gunung itu
hidup delapan ratus ajar-ajar yang dipimpin Pucuk Umun. Hasanuddin diberitakan
konon tinggal bersama mereka selama sepuluh tahun lebih.Keberadaan Gunung
Pulosari yang dipercaya sebagai salah satu gunung keramat diperkirakan telah
muncul jauh sebelum berdirinya Kerajaan Banten Girang yaitu kerajaan yang
bercorak Hindu/Buddha sebelum berdirinya Kesultanan Banten Islam. Berita-berita
dari beberapa pakar kepurbakalaan seperti Pleyte mengisahkan Sanghyangdengdek
berdasarkan sumber cerita Ahmad Djayadiningrat pada tahun 1913 dan NJ Krom dalam
Rapporten van der Oudheikundingen Diens in Nederlandsch Indie tahun 1914
menyatakan pula bahwa di seputar Kabupaten Pandeglang ada peninggalan arkeologi
berupa arca nenek moyang. Salah satu arca yang dimaksud adalah patung tipe
polinesia di Tenjo (Sanghyangdengdek).

Gambaran Gunung Pulosari sebagai gunung keramat diperoleh pula dari keterangan
Claude Guillot bahwa di Desa Sanghyangdengdek, Kecamatan Saketi, Kabupaten
Pandeglang terdapat pemujaan lama yang menyandang nama dewa. Tempat pemujaan
tersebut sudah lama dikenal berupa batu berdiri yang tingginya kira-kira satu
meter dan puncaknya dipahat sederhana dan kasar berbentuk kepala, mata bulat,
mulutnya hanya berupa goresan, telinganya dibuat hanya tipis sederhana dan
hidung tidak nyata, lengan-lengan dan kelamin lelaki kelihatan pula, tetapi
hampir tidak menonjol.

Tidak hanya itu. Keberadaan Gunung Pulosari yang dikenal sebagai gunung keramat
dapat dikatakan sebagai salah satu pusat peradaban masa lalu di daerah Banten.
Pernyataan ini tentunya didukung bukti-bukti peninggalannya. Kira-kira empat
kilometer dari Sanghyangdengdek di atas bukit Kaduguling tepatnya di perbatasan
Desa Sukasari dan Desa Bongkaslandeuh, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang
terdapat kompleks megalitik berlanjut yang disebut Batu Goong-Citaman.
Hasil penggambaran Direktorat Purbakala tahun 1999, tampak situs Batu Goong
adalah punden berundak yang merekayasa bentukan alam. Bukit Kaduguling sebagai
bukit tertinggi di seputar situs, posisinya tepat berada pada garis lurus ke
Sanghyangdengdek berorientasi ke puncak Gunung Pulosari dibentuk
pelataran-pelataran bertrap-trap makin ke timur makin tinggi menjadikan bentuk
memusat ke belakang. Di tempat tertinggi itulah ditempatkan Batu Goong bersama
menhir. Menhir ini berdiri di tengah-tengah sebagai pusat dikelilingi oleh
batu-batu yang berbentuk gamelan seperti gong dan batu pelinggih. Formasi
semacam ini lazim disebut formasi "temu gelang". Di tempat lain dapat
diperbandingkan dengan peninggalan megalitik di Matesih, Jawa Tengah, dan di
situs Pugungraharjo di Lampung Timur.
***



SITUS Batu Goong dilengkapi kolam megalitik berukuran cukup besar, yang dikenal
dengan situs Cataman. Cataman berada di sebelah barat Batu Goong jaraknya
kira-kira 450 m, dan posisinya berada lebih rendah. Berdasarkan hasil pendataan
Suaka Peninggalan sejarah dan Purbakala Serang, menunjukkan dahulu situs Batu
Goong dan Citaman merupakan satu kesatuan, satu kompleks budaya dan satu
periode. Di Citaman terdapat batu-batu berlubang, batu datar, batu dakon dan
batu bergore. Disamping itu di situs Batu Goong-Citaman ditemukan pecahan
keramik, diantaranya keramik Sung putih berasal dari akhir abad ke-10 M yang
paling tua, dan keramik Yuan dari abad ke-14 M yang lebih muda.



***



SATU hal menarik dan menjadi perhatian adalah bila ditarik garis lurus
barat-timur, antara Batu Goong dengan Sanghyangdengdek akan berakhir di puncak
Gunung Pulosari sebagai kiblat persembahan tempat roh nenek moyang sekaligus
menganggap Gunung Pulosari itu sendiri sebagai gunung keramat. Anggapan ini
tidak berlebihan mengingat Babad Banten yang merupakan produk masa Islam masih
menyebutkan Gunung Pulosari adalah gunung keramat. Berdasarkan penuturan Babad
Banten kendatipun Gunung Karang dan Gunung Haseupan juga banyak disebut-sebut
tempat kegiatan asal mula pendukung/masyarakat Banten, namun Gunung Pulosari
dinyatakan lebih penting ditinjau dari segi kekeramatannya. Hal ini mungkin
karena Gunung Pulosari sejak zaman prasejarah ditunjuk sebagai gunung suci
tempat para arwah leluhur.

Pada tahun 1993 Ny Sawinah, penduduk Desa Sukasari, pernah menemukan potongan
kaki arca dari masa klasik di sebelah barat situs Batu Goong. Hal ini berarti
situs Batu Goong-Citaman merupakan situs megalitik berkelanjutan.
Peninggalan-peninggalan di seputar Gunung Pulosari jauh lebih lengkap, lebih
banyak dan artefaknya dapat ditelusuri hingga ke masa klasik. Bahkan banyak
sarjana kenamaan telah memiliki bukti awal yang menunjukkan di Gunung Pulosari
pada abad ke-7 atau ke-9 telah berdiri bangunan candi, khususnya dari agama
Hindu. Data atau buktinya kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta berupa
koleksi beberapa buah patung arca Hindu seperti arca Brahma, arca Siwa, arca
Agastya, arca Ganesha, arca Durga, dan lapik arca dari Gunung Pulosari.

Masih di seputar Gunung Pulosari, tepatnya di lereng selatannya, di Kampung
Baturanjang, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk ditemukan sebuah dolmen. Dolmen di
Baturanjang tergolong telah maju karena meja batunya telah dikerjakan secara
halus. Dibandingkan dengan dolmen-dolmen yang ditemukan di Sumatera bagian
selatan, dolmen Baturanjang amat menarik karena terbuat dari batu andesit yang
tergolong maju. Dolmen dibuat secara halus dan permukaannya rata, disangga empat
batu dan dikerjakan sangat rapi dengan pahatan pelipit melingkar. Di bawahnya
terdapat pondasi dari batu kali untuk menahan agar batu penyangga tidak terbenam
ke dalam. Di sebelah timur dolmen terdapat batu lumpang atau batu berlubang.

Bentuk dolmen Baturanjang ini mengingatkan pada batu dolmen dari Sumba yang
digunakan sebagai tempat penguburan raja-raja. Namun, secara pasti fungsi dolmen
Baturanjang belum diketahui apakah sebagai kuburan atau media pemujaan arwah
leluhur, mengingat belum pernah dilakukan penelitian dalam bentuk ekskavasi
arkeologis.

***
MASIH di seputar Gunung Pulosari, di Kampung Cidaresi, Desa Palanyar, Kecamatan
Cimanuk, ditemukan batu monolit megalitik yang ternyata batu bergores. Bentuk
goresannya sangat berlainan dari batu-batu bergores di tempat lain. Batu
bergores Cidaresi berbentuk segi tiga dengan lubang di tengah-tengah sehingga
menyerupai kemaluan wanita. Karena itu, penduduk setempat menamakannya "batu
tumbung" yang berarti kemaluan wanita. Diduga batu Cidaresi ini menggambarkan
simbol kesuburan, atau sebagai lambang kesucian wanita.

Demikian beberapa gambaran temuan kepurbakalaan di seputar Gunung Pulosari yang
diduga sebagai salah satu pusat peradaban Banten pada masa lalu. Di era otonomi
daerah dewasa ini peninggalan tersebut patut menjadi perhatian pemerintah daerah
untuk tetap melindunginya dan menjaga kelestariannya bahkan kemudian dapat
dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata budaya.


Sejarah Gunung Santri

0 komentar




Gunung santri merupakan salah satu bukit dan nama kampung yang ada di Desa Bojonegara Kecamatan Bojonegara Kabupaten Serang Daerah ini berada di sebelah barat laut daerah pantai utara 7 Kilometer dari Kota Cilegon. 
 
Letak gunung santri berada ditengah dikelilingi gugusan gunung-gunung yang memanjang dimulai dari pantai dan berakhir pada gunung induk yaitu gunung gede. di puncak gunung santri terdapat makan seorang wali yaitu Syekh Muhammad Sholeh, jarak tempuh dari kaki bukit menuju puncak bejarak 500 M hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.


Kampung di sekitar gunung santri antara lain Kejangkungan, Lumajang, Ciranggon, Beji, Gunung Santri dan Pangsoran. Di kaki bukit sebelah utara di kampung Beji terdapat masjid kuno yang seumur dengan masjid Banten lama yaitu Masjid Beji yang merupakan masjid bersejarah yang masih kokoh tegak berdiri sesuai dengan bentuk aslinya sejak zaman Kesultanan Banten yang kala itu Sultan Hasanudin memimpin Banten. Syekh Muhammad Sholeh adalah Santri dari Sunan Ampel, setelah menimba ilmu beliau menemui Sultan Syarif Hidayatullah atau lebih di kenal dengan gelar Sunan Gunung Jati (ayahanda dari Sultan Hasanudin) pada masa itu penguasa Cirebon. Dan Syeh Muhamad Sholeh diperintahkan oleh Sultan Syarif Hidayatullah untuk mencari putranya yang sudah lama tidak ke Cirebon dan sambil berdakwah yang kala itu Banten masih beragama hindu dan masih dibawah kekuasaan kerajaan pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Pucuk Umun dengan pusat pemerintahanya berada di Banten Girang.

Sesuai ketelatennya akhirnya Syekh Muhammad Sholeh pun bertemu Sultan Hasanudin di Gunung Lempuyang dekat kampung Merapit Desa UkirSari Kec. Bojonegara yang terletak di sebelah barat pusat kecamatan yang sedang Bermunajat kepada Allah SWT. Setelah memaparkan maksud dan tujuannya, Sultan Hasanudin pun menolak untuk kembali ke Cirebon. Karena kedekatannya dengan ayahnya Sultan Hasanudin yaitu Syarif Hidayatullah, akhirnya Sultan Hasanudin pun mengangkat Syekh Muhammad Sholeh untuk menjadi pengawal sekaligus penasehat dengan julukan “Cili Kored” karena berhasil dengan pertanian dengan mengelola sawah untuk hidup sehari-hari dengan julukan sawah si derup yang berada di blok Beji.

Syiar agam Islam yang dilakukan Sultan Hasanudin mendapat tantangan dari Prabu Pucuk Umun, karena berhasil menyebarkan agama Islam di Banten sampai bagian Selatan Gunung Pulosari (Gunung Karang) dan Pulau Panaitan Ujung Kulon. Keberhasilan ini mengusik Prabu Pucuk Umun karena semakin kehilangan pengaruh, dan menantang Sultan Hasanudin untuk bertarung dengan cara mengadu ayam jago dan sebagai taruhannya akan dipotong lehernya, tantangan Prabu Pucuk umun diterima oleh sultan Hasanudin. Setelah Sultan Hasanudin bermusyawarah dengan pengawalnya Syekh Muhamad Soleh, akhirnya disepakati yang akan bertarung melawan Prabu Pucuk Umun adalah Syekh Muhamad Sholeh yang bisa menyerupai bentuk ayam jago seperti halnya ayam jago biasa. Hal ini terjadi karena kekuasaan Allah SWT.

Pertarungan dua ayam jago tersebut berlangsung seru namun akhirnya ayam jago milik Sultan Maulana Hasanudin yang memenangkan pertarungan dan membawa ayam jago tersebut kerumahnya. Ayam jago tersebut berubah menjadi sosok Syekh Muhammad Sholeh sekembalinya di rumah Sultan Maulana Hasanudin. Akibat kekalahan adu ayam jago tersebut Prabu Pucuk Umun pun tidak terima dan mengajak berperang Sultan Maulana Hasanudin, mungkin sedang naas pasukan Prabu Pucuk Umun pun kalah dalam perperangan dan mundur ke selatan bersembunyi di pedalaman rangkas yang sekarang dikenal dengan suku Baduy.

Setelah selesai mengemban tugas dari Sultan Maulana Hasanudin, Syekh Muhammad Sholeh pun kembali ke kediamannya di Gunung santri dan melanjutkan aktifitasnya sebagai mubaligh dan menyiarkan agama Islam kembali. Keberhasilan Syekh Muhammad Sholeh dalam menyebarkan agama Islam di pantai utara banten ini didasari dengan rasa keihlasan dan kejujuran dalam menanamkan tauhid kepada santrinya, semua itu patut di teladani oleh kita semua oleh generasi penerus untuk menegakkan amal ma’rup nahi mungkar.
Beliau Wafat pada usia 76 Tahun dan beliau berpesan kepada santrinya jika ia wafat untuk dimakamkan di Gunung Santri dan di dekat makan beliau terdapat pengawal sekaligus santri syekh Muhammad Sholeh yaitu makam Malik, Isroil, Ali dan Akbar yang setia menemani syekh dalam meyiarkan agama Islam. Syekh Muhammad Sholeh wafat pada tahun 1550 Hijriah/958 M. jalan menuju makam Waliyullah tersebut mencapai kemiringan 70-75 Derajat sehingga membutuhkan stamina yang prima untuk mencapai tujuan jika akan berziarah. Jarak tempuh dari tol cilegon Timur 6 KM kearah Utara Bojonegara, jika dari Kota Cilegon melalui jalan Eks Matahari lama sekarang menjadi gedung Cilegon Trade Center 7 KM kearah utara Bojonegara disarikan dari buku “Gunung Santri Objek Wisata Religius”.

Gunung Karang 1.778m dpl, Pandeglang Banten

0 komentar







Gunung Karang terletak di Kab Pandeglang Banten yang merupakan berjenis stratovolkano tanpa sejarah letusan. Gunung ini dijadikan tempat berkunjung para perziarah bagi yang mempercayainya, biasaya bulan Maulid adalah puncak kunjungan. Salah satu tujuan peziarah adalah petilasan Tb Jaya Raksa sesepuh era Kerajaan Banten di Ds Kaduengang, sumur tujuh di puncak Gn Karang, curug nangka dan goa ciomas. (view gn Karang dari Serang)
 
Akses Jalur Pendakian
Di ketahui ada dua jalur perdakian menuju puncak Gn Karang yaitu jalur Desa Kaduengang yang sering dipakai oleh para peziarah dengan waktu tempuh kurang lebih 4-5 jam. Dan jalur Desa Pager Watu/Ciekek dengan jarak tempuh kurang lebih 7 jam, namun jalur kedua jarang dilalui.

Akses Jalan Menuju Desa Kaduengang
Desa Kaduengang merupakan desa terakir di kaki Gn Karang bisa ditempuh dari beberapa alternatif jalan diantaranya :
-         Dari Jakarta naik bis jurusan Labuan turun di Yonif Badak Putih, dilanjutkan dengan naik ojek menuju Desa Kaduengang. Kondisi jalan aspal setelah itu berbatu dan menanjak.
-         Alternatif kedua dari Jakarta naik bis jurusan Labuan turun di pertigaan pabrik atau Jl Lintas Timur, dilanjutkan naik angkot kearah kota Pandeglang turun di Jl Juhut. Dari pertigaan juhut naik ojek ke Desa Kaduengang. Kondisi jalan aspal hotmik & berbatu.
-         Alternatif ketiga dari Jakarta naik bis jurusan Labuan turun di pertigaan pabrik atau Jl Lintas Timur, dilanjutkan naik angkot kearah kota Pandeglang turun terminal Pandeglang/Pasar. Dari sini perjalanan dilanjutkan dengan naik mobil bak sayur atau ojek menuju Desa Kaduengang.
-         Bila membawa kendaraan sendiri di sarankan menempuh alternatif ketiga karena kondisi jalan yang lebih bagus.
Kendaraan bisa langsung diarahkan menuju alun-alun kota Pandeglang, ambil jalan menuju penjara, setelah penjara belok kiri menuju Jl Gunung Karang.
Jarak penjara – pertigaan SD impres 1,5 km => jalan aspal hotmik, disini ambil jalur ke kanan arah Ds Pasir Peutey atau Ds Kaduengang.
Pertigaan SD Impres – Perempatan Juhut 2,5 km => jalan aspal hotmik, disini ambil jalur lurus arah Ds Kaduengang.
Pertigaan Juhut – Ds Pasir Peutey/Kampung Sabrang => jalan aspal hotmik
Kp Sabrang – Ds Kaduengang 1,5 km => jalan aspal rusak & berbatu

Di Desa Kaduengang bisa menitipkan kendaraan di salah satu rumah penduduk. Sepanjang perjalanan Ds Pasir Peuteuy – Kaduengang banyak penduduk setempat menjemur biji kopi di tengah jalan, dengan tujuan agar lindes oleh kendaraan yang melewatinya dan biji kopi mudah dikupas.

Jalur Pendakian Ds Kaduengang
-         Selepas Desa Kaduengang akan ditemukan petilasan Tb Jaya Raksa, bila ada waktu bisa berziarah dulu sambil mencari informasi ke penduduk setempat.
-         Ds Kaduengang – Pos 2 => jarak tempuh 1 jam
Trek melalui perkebunan cengkeh, kopi dan ilalang. Di pos 2 bisa di nikmati view Selat Sunda, kota Pandeglang & kota Serang
-         Pos 2 – Batas vegetasi hutan => jarak tempuh 1 jam
-         Batas vegetasi hutan – Pos 3 => jarak tempuh 1.5 jam
-         Pos 3 – Puncak => Jarak tempuh 1.5 jam
Selepas pos 3 akan ditemukan persimpangan, ambil jalur ke kiri yg menurun menuju sumur tujuh. Sedangkan ke kanan yang ,mendatar menuju Ciomas & Curug Nangka
-         Di puncak akan di jumpai sumur tujuh, musola kecil dan kuburan salah seorang peziarah yg meninggal di puncak Gn Karang. Air sumur tujuh bisa digunakan untuk masak & minum tapi kadangkala kering di musim kemarau.

About me

Maaf Ya, Di Blog Ini Tidak Di Ijinkan Untuk Klik Kanan

Powered By Blogger
Diberdayakan oleh Blogger.
 
Minima 4 coloum Blogger Template by Serdadu Banten.
Simplicity Edited by Serdadu Banten's Template